(Khutbah Jumat) Muharram; Momentum Introspeksi Diri Menuju Pribadi yang lebih baik

Maa’syaral Muslimin yang dirahmati Allah Swt saat ini kita berada di pertengahan Muharram salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Muharram merupakan salah satu asyhurun hurum (bulan-bulan mulia). Ada 4 bulan yang tergolong dalam asyhurun hurum di antaranya, Zulqaidah, Zulhijjah,Muharram dan Rajab.

Nabi juga menegaskan demikian bahwa Muharam adalah bulan yang mulia, hal ini sesuai dengan sabda beliau:

Afdhalus shiyam ba’da Ramadhan, Syahrullahil Muharram.

(Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram)

Pergantian bulan dan tahun dalam Islam bukan sekedar pergantian waktu semata. Semakin waktu berganti usia kita bertambah, tapi masa kita hidup semakin berkurang, semakin dekat kita dengan kematian yang pasti akan datang menjemput kita. Tidak ada yang tahu apakah kita akan menikmati siang esok yang terang, atau malam besok yang dingin yang pastinya kita semua akan kembali ke hadirat Allah Swt.

Perjalanan hidup kita sudah sangat jauh, mari sejenak kita berhenti. Menoleh ke belakang, melihat apa yang sudah kita lakukan di masa lalu dan memikirkan perbaikan untuk masa depan yang lebih baik.

Mari sama-sama kita mengintrospeksi diri kita agar kita menjadi lebih baik dari masa lalu.

Allah Swt berfirman:

;يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Dalam momentum ini mari sama-sama kita bermuhasabah diri, mengintrospeksi diri kita, melihat jauh-jauh apa yang sudah kita lakukan selama kita hidup di dunia, selama kita berada di setahun terakhir ini. Jadilah orang yang bijak yang ingin menciptakan perubahan dalam setiap langkah hidupnya. 

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْت ِ ، وَالعَاج ِ زُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْس َ هُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Kita bisa melihat bagaimana sahabat Umar mengintrospeksi diri.Seorang khalifah saja sering menginstrokpeksi dirinya terhadap apa yang sudah dia lakukan selama ini.

Ada tiga pertanyaan yang bisa kita renungkan dalam sanubari kita.

Bagaimana hubungan kita dengan Allah? apakah ibadah kita sudah lebih baik dari tahun sebelumnya?

Bagaimana hubungan kita dengan manusia? Apakah kita sudah menjadi sosok yang baik kepada sesama? 

Bagaimana dengan umur dan waktu kita? Selama ini apa yang sudah kita lakukan dalam setiap hembusan napas? 

Dalam sebuah riwayat disebutkan;

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barang siapa yang harinya lebih buruk daripada kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat (celaka)

Kita tidak ingin rugi, kita tidak ingin  dilaknat, kita semua ingin menjadi orang yang rabih yang beruntung di hadapan Allah di hari akhirat karenanya mari sama-sama kita bermuhasabah diri, dan meningkatkan takwa kita kepada Allah Swt dengan sebenarnya, imtisalu awamirih, wajtinabu nawahihi.

Setelah kita bermuhasabah diri, mari senantiasa kita memulai hidup kita yang baru yang penuh dengan kebahagiaan sebagai seorang muslim dan mukmin. Kita isi hari-hari yang kita jalani dengan target kebaikan dan perubahan dalam hidup kita.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *