Khutbah Jumat: Berubah atau Menyesal di Kemudian Hari?

khutbah jumat

Dalam kesempatan khutbah ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan melaksanakan perintahnya dan meninggalkan segala larangannya.

Maasyiral Muslimin yang Dirahmati Allah Swt

Kehidupan yang kita jalani pasti ada batasnya, setiap makhluk akan merasakan yang namanya kematian. Siap atau tidak namun kematian pasti akan datang. Tentunya yang perlu kita kerjakan sekarang adalah mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian.

Allah Swt berfirman

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ

Artinya:

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati (Ali Imran: ayat 185)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap yang hidup pasti akan merasakan yang namanya kematian. Tugas kita adalah mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian yang akan menjemput kita tanpa kita tahu kapan waktunya.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung kabar gembira sekaligus ancaman bagi orang yang membenarkan dan yang mendustakan. Karena Allah menjadikan kematian adalah akhir dari setiap makhluk hidup baik itu manusia, malaikat, jin, atau hewan; tidak ada seorang pun yang dapat lolos untuk tidak merasakan kematian.

Apa jadinya ketika hidup kita lupa untuk beribadah dan beramal shalih.Padahal dunia adalah mazra’ah (ladang) beramal sebelum kita menuju kematian. Jangan biarkan diri kita menjadi bagian orang yang menyesali apa yang kita lakukan di dunia karena kurangnya ketaatan kita kepada Allah Swt.

Di hari akhirat kelak, tidak ada gunanya lagi kita menyesal. Inilah waktunya bagi kita untuk memperbaiki diri sebelum datang kematian yang menjadi akhir bagi kehidupan di dunia fana ini.

Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 24;

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ

Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!”

Ibnu Katsir menjelaskan, dia menyesali perbuatan-perbuatan durhaka yang telah dikerjakannya di masa lalu jika dia orang yang durhaka, Dan dia berharap seandainya dia dahulu menambah amal ketaatan jika dia adalah orang yang taat di masa lalunya.

Maasyiral Muslimin yang dirahmati Allah Swt

Dalam kesempatan ini khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk mengingat tiga pesan yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi sebagaimana dinukil dari Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al Bantani.

Pesan yang disampaikan oleh Yahya bin Muadz adalah kiat untuk menjadi pribadi yang bahagia di akhirat sehingga kita menjadi orang yang beruntung bukan orang yang menyesal karena semasa hidup bermaksiat dan bergelimang dosa.

Pesan pertama, طوبى لمن ترك الدنيا قبل أن تتركه، amatlah beruntung orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya. Maksudnya adalah betapa beruntungnya orang yang meninggalkan hal duniawi seperti harta dan hal lainnya untuk sebelum dia meninggal dunia. Harta yang dia miliki dia gunakan untuk beramal shalih, dia bersedekah, berwakaf dengan harta yang diberikan kepadanya.

Yang kedua, وبني قبره قبل أن يدخله, orang yang membangun kuburan sebelum ia memasukinya.

Orang yang beriman tentunya akan memikirkan bagaimana nasibnya di alam barzakh kelak setelah kematian, karenanya dia akan beramal shalih selama hidup di dunia, sehingga ketika meninggal kelak dia akan bahagia dengan amal yang sudah dia lakukan selama hidup di dunia.

Mari kita tanyakan diri kita sendiri, bagaimana ibadah kita? bagaimana hubungan kita dengan manusia? kemana waktu dan umur kita pergunakan?

Ketiga, وأرضى ربه قبل أن يلقاهn dan orang yang mendatangkan rida Tuhannya sebelum ia menemui-Nya.”

Cara mendapatkan ridha Allah adalah dengan melaksanakan segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Kita tahu bahwa yang diharamkan Allah akan kita tinggalkan. Yang diwajibkan oleh Allah akan kita laksanakan.

Mari kita menjadi insan yang taat yang tahu mana saja yang wajib untuk kita amalkan serta tahu apa saja yang harus ditinggalkan. Tingkatkan amal ibadah kita dan jangan sampai kita menjadi orang yang penuh penyesalan di hari akhirat kelak.

Tagged with:
khutbah jumat

One thought on “Khutbah Jumat: Berubah atau Menyesal di Kemudian Hari?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Khutbah Jumat: Mulia Tidak Mengenal Status Sosial

Khutbah Jumat: Mulia Tidak Mengenal Status Sosial

Khutbah Jumat: Jaga Lisan atau Timbulkan Bahaya untuk Dirimu?

Khutbah Jumat: Jaga Lisan atau Timbulkan Bahaya untuk Dirimu?

Kultum: Anak adalah Amanah

Kultum: Anak adalah Amanah

Khutbah Jumat: Tanda-tanda Masih Ada Sifat Munafik dalam Diri

Khutbah Jumat: Tanda-tanda Masih Ada Sifat Munafik dalam Diri

(Khutbah Jumat) Muharram; Momentum Introspeksi Diri Menuju Pribadi yang lebih baik

(Khutbah Jumat) Muharram; Momentum Introspeksi Diri Menuju Pribadi yang lebih baik

Populer
No popular posts within this time range.