Khutbah Jumat: Tanda-tanda Masih Ada Sifat Munafik dalam Diri

Munafik

Maasyiral Muslimin

Khatib mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian untuksenantiasa menjadi orang yang bertakwa kepada Allah Swt. Marilah menjadi muslim sejati yang selalu mengedepankan kejujuran dan sikap baik di dalam kehidupan kita. Mari kita hindari sifat-sifat yang dapat merusak keimanan kita seperti sifat nifaq (munafik).

Kita semua tahu bahwa munafik bukanlah perbuatan yang baik, baik kita kaji dalam aspek syariah maupun dalam aspek sosial dalam kehidupan kita sehari-hari. Nabi secara terang benderang memaparkan tanda-tanda orang menjadi munafik sebagaimana sabdanya;

آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ 

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu ketika berbicara ia dusta, ketika berjanji ia mengingkari, dan ketika ia diberi amanat ia berkhianat.

Dari hadis ini kita tahu apakah kita termasuk golongan-golongan yang disebutkan oleh Nabi tersebut. Sudahkan kita jujur dalam berkata? Sudahkah kita tunaikan janji yang kita ucap? Sudahkah kita menjalankan amanah yang diberikan?

Jika kita memiliki sifat yang disebutkan Nabi, maka inilah waktu bagi kita untuk bermuhasabah diri, bertaubat kepada Allah Swt dan tanamkan dalam diri untuk tidak akan mengulangi perbuatan tercela tersebut.

Jangan tunggu esok hari, berubahlah sekarang selama masih ada kesempatan untuk kita memperbaiki diri. Jangan sampai kelak kita menyesal karena tidak bertaubat di masa hidup.

Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 24;

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ

Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!”

Ibnu Katsir menjelaskan, dia menyesali perbuatan-perbuatan durhaka yang telah dikerjakannya di masa lalu jika dia orang yang durhaka, Dan dia berharap seandainya dia dahulu menambah amal ketaatan jika dia adalah orang yang taat di masa lalunya.

Maasyiral Muslimin

Sifat nifaq atau munafik dibagi menjadi dua. Yang pertama, nifaq i’tiqadi atau orang-orang yang menampakkan keislamannya namun pada hakikatnya dia mengingkarinya atau tidak beriman. Dia tampak seperti orang yang beriman, namun dalam hatinya dia menolak dakwah nabi, dia bahagia dengan kemunduran Islam, dia menolak perintah-perintah Allah.

Orang-orang seperti ini tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak, bahkan mereka akan mendapatkan siksaan di dalam dasar neraka.

Allah berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ۝١٤٥

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka (An-Nisa ayat 145).

Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah sesungguhnya pada hari kiamat orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, yaitu Hawiyah, sebab kekufuran mereka yang sangat dan perbuatan mereka yang rusak. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun yang bisa menyelamatkan mereka daari azab neraka tingkat paling bawah.

Tentunya sikap munafik merupakan perbuatan yag sangat tercela, mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih di akhirat kelak. Oleh karena itu, mari mawas diri menjadi insan yang baik,yang mempertahankan keimanan tanpa sekali-kali berpikir untuk mengingkari apa yang telah diturunkan Allah dan yang telah terkandung di dalam Syariatnya.

Yang kedua, nifaq ashgar atau nifaq a’mali atau orang-orang masih memilki sifat munafik dalam dirinya namun dia masih beriman.

Tanda-tandanya disebutkan oleh baginda Rasululah Saw

أربَعٌ مَن كُنَّ فيه كان مُنافِقًا خالِصًا، ومَن كانَت فيه خَصلةٌ منهنَّ كانَت فيه خَصلةٌ مِنَ النِّفاقِ حتَّى يَدَعَها: إذا اؤتُمِنَ خانَ، وإذا حَدَّثَ كَذَبَ، وإذا عاهَدَ غَدَرَ، وإذا خاصَمَ فجَرَ.

Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara tersebut ada pada dirinya maka dia menjadi orang munafik sejati, dan apabila salah satu sifat dari empat perkara tersebut ada pada dirinya, maka pada dirinya terdapat satu sifat dari kemunafikan hingga dia meninggalkannya: jika berbicara selalu bohong, jika melakukan perjanjian melanggar, jika berjanji selalu ingkar, dan jika berselisih licik

Apakah kita memiliki salah satu sifat dari 4 sifat yang disebutkan oleh Nabi? jika memang masih ada kemunafikan di hati kita, inilah saatnya kita berubah, kita tinggalkan perbuatan tersebut dan berubah menjadi orang mukmin sejati tanpa kemunafikan dan kedustaan dalam hati dan perbuatan kita.

Berlaku jujurlah dalam setiap langkah kehidupan, jangan pernah ingkar janji, dan jagalah kepercayaan saat diberikan amanah berupa jabatan dan hal lainnya. Sehingga kita tidak tergolong dalam kemunafikan yang menghancurkan moral dan juga aqidah.

One thought on “Khutbah Jumat: Tanda-tanda Masih Ada Sifat Munafik dalam Diri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Khutbah Jumat: Mulia Tidak Mengenal Status Sosial

Khutbah Jumat: Mulia Tidak Mengenal Status Sosial

Khutbah Jumat: Jaga Lisan atau Timbulkan Bahaya untuk Dirimu?

Khutbah Jumat: Jaga Lisan atau Timbulkan Bahaya untuk Dirimu?

Kultum: Anak adalah Amanah

Kultum: Anak adalah Amanah

Khutbah Jumat: Berubah atau Menyesal di Kemudian Hari?

Khutbah Jumat: Berubah atau Menyesal di Kemudian Hari?

(Khutbah Jumat) Muharram; Momentum Introspeksi Diri Menuju Pribadi yang lebih baik

(Khutbah Jumat) Muharram; Momentum Introspeksi Diri Menuju Pribadi yang lebih baik

Populer
No popular posts within this time range.