Maasyiral Muslimin
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.
Kita semua mengenal namanya, terkenal di penjuru dunia, seorang yang kulitnya hitam, status sosialnya rendah, dan tidak memiliki harta kekayaan. Namun pada akhirnya ia menjadi salah satu orang yang dimuliakan oleh Allah Swt. Dia adalah sahabat Nabi bernama Bilal ibnu Rabah.
Bilal adalah seorang hamba sahaya milik seorang kafir Quraisy yang selalu menerima siksaan, dijemur di bawah terik matahari yang panas hingga kulitnya mengelupas. Ia disiksa karena mempertahankan keimanannya kepada Allah Swt.
Hingga akhirnya Abu Bakar memerdekakannya. Sejak saat itu Bilal selalu bersama Rasulullah dalam setiap perjuangannya dalam dakwah Islam. Bilal adalah Muazzin pertama dalam Islam. Suaranya yang bagus membuat kaum muslimin bahagia melihatnya. Dia mempertahankan keimanannya. Dia beriman kepada Allah dan suatu ketika Rasululah bertanya kepada Bilal.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي ﷺ قال لبلال عند صلاة الفجر: يا بلال، حدثني بأرجى عمل عملته في الإسلام، فإني سمعت دف نعليك بين يدي في الجنة. قال: ما عملت عملا أرجى عندي أني لم أتطهر طهورا في ساعة من ليل أو نهار إلا صليت بذلك الطهور ما كتب لي أن أصلي.
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal setelah salat Subuh:
“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam. Sesungguhnya aku mendengar suara langkah kedua sandalmu di hadapanku di surga.”
Bilal menjawab:
“Tidak ada amalan yang paling aku harapkan selain bahwa setiap kali aku berwudu, baik pada malam maupun siang hari, aku selalu mengerjakan salat dengan wudu itu sebanyak yang Allah tetapkan bagiku.
Maasyiral Muslimin
Inilah contoh orang yang selalu beramal shalih dan meninggalkan larangannya. Kisah ini menjadi motivasi dan pelajaran bagi kita untuk selalu mengingat Allah untuk selalu beramal shalih dalam kehidupan kita sebelum ajal menjemput kita.
Ketakwaan tidak mengenal status sosial, tidak mengenal hebat atau tidaknya kita. Tidak mengenal sebanyak apa kekayaan yang kita miliki. Tapi kemuliaan di sisi Allah swt dilihat dari sebanyak apa kita beramal dan sejauh mana kita bertakwa kepada Allah Swt.
Ingatlah apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Mari kita renungkan sebuah hadis Nabi Saw:
: لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه، وعن علمه فيما فعل، وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه، وعن جسمه فيما أبلاه.
Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya:
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Dalam kesempatan ini Khatib ingin memaparkan kiat menjadi orang bahagia di dunia dan juga di akhirat sebagaimana disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib sebagaimana dibahas dalam kitab Nashaihul Ibad.