Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, pelestarian lingkungan bisa diciptakan melalui penguatan konsep ekoteologi. Gagasan ini untuk menyelamatkan lingkungan serta panggilan iman dan tanggung jawab spiritual setiap individu untuk menjaga bumi.
Hal ini disampaikan kembali oleh Menag saat membedah tiga buku seri pemikirannya di Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketiga buku itu adalah Pikiran yang Memurnikan, Simpul Pemikiran, serta Artikel dan Opini Pilihan.
Nasaruddin mengatakan, pihaknya berkomitmen menghadirkan visi khas yang mengintegrasikan ajaran agama dengan aksi iklim. Kerusakan lingkungan telah berdampak pada kelangsungan hidup manusia sebagai khalifah di bumi.
“Sudah waktunya kita menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan orang terhadap betapa pentingnya merawat lingkungan,” ujarnya sebagaimana dilansir dari situs Kemenag.go.id
Menag menjelaskan bahwa hukum formal memang krusial, namun sentuhan bahasa agama juga menjadi elemen penting dalam membangun sistem kendali moral dari dalam diri manusia. Melalui kesadaran keagamaan, tindakan merusak alam tidak lagi hanya dipandang sebagai pelanggaran hukum sosial, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral kepada Sang Pencipta.
Eksplorasi, Bukan Eksploitasi
Dalam memanfaatkan kekayaan bumi, Menag mengingatkan agar manusia tidak melampaui batas. Ia membedakan antara eksplorasi yang berorientasi pada keberlanjutan masa depan, dengan eksploitasi rakus yang merusak ekosistem.
“Islam tidak mengizinkan eksploitasi. Yang diizinkan adalah eksplorasi,” tuturnya.
Bagi Menag, ekoteologi menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya melindungi kehidupan generasi hari ini dan masa depan. Karena isu lingkungan melampaui batas negara dan kelompok, bahasa keagamaan menjadi jembatan universal untuk memperkuat tanggung jawab kolektif global.
Baca juga: Aceh Masuk 5 Besar Indeks Wakaf Nasional 2026
Menag berharap gagasan ekoteologi ini terus dikembangkan secara kontekstual di ruang-ruang akademik dan perguruan tinggi keagamaan. Melalui penguatan literasi dan pendidikan, sumbangsih pemikiran ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru yang memperlakukan alam secara terhormat demi keberlangsungan peradaban.